There was an error in this gadget

Sunday, July 25, 2010

Brand building with inception way.



Setelah kemaren menyempatkan menonton inception, akhirnya tahu juga kenapa film ini banyak orang bilang bagus. Beberapa teman bercerita tentang sisi menarik mengenai film ini, ada juga teman yang berkomentar mengenai sosok pemeran utama yang semakin matang di tiap film2 yang dia bawa. Tapi dengan tulisan ini saya tidak bahas secara mendalam mengenai film dan teknisnya, karena banyak banget bloger yang membahas jauh lebih bagus.

Ok, berangkat dari ide sederhana yang pasti tiap manusia pernah mengalaminya di setiap mimpinya. Entah itu mimpi jatuh dari ketinggian, mimpi yang berlapis dan mimpi yang terkadang disaat kita bangun merasa lelah karena kita merasa berlari disaat tidur.

Yang lebih menarik dari film ini kalau para marketer, pembuat iklan, jago2 komunikasi dan sebagainya jeli pasti akan menyukai ide dasar dari film ini. Dimana kita bisa mempengaruhi alam bawah sadar orang lain untuk menggunakan produk atau brand kita secara loyal. Merubah mindset manusia akan sesuatu, membuat mereka tidak memiliki alasan logis untuk memilih brand/produk tertentu. Memilih sebuah brand tanpa mengetahui awalnya (inception) dan terjadi secara berulang-ulang begitu saja. Tanpa sadar mereka telah terjebak terlalu dalam terhadap mindset alam bawah sadar mereka sendiri terhadap sebuah brand, dan akhirnya tidak dapat melihat secara obyektif mana produk yang bagus dan jelek. Christopher Nolan berusaha menyampaikannya dengan detail dalam film inception bahwa pemikiran manusia itu berlapis. Diperlukan persiapan yang matang (marketing strategi) dan waktu bertahun-tahun (inception: 5menit didunia nyata=seminggu di dunia mimpi) untuk merubah mindset manusia.

Pertanyaan apakah hal tersebut dapat dilakukan? kalau hal tersebut dapat dilakukan pasti para marketer sekarang ini akan berlomba-lomba melakukan perjalanan mimpi.

Di beberapa buku marketing/branding yang berusaha menjelaskan secara ilmiah, ambil contoh lovemark. Dimana manusia itu "drive by emotion not by reason" berusaha dijelaskan bahwa jika kita mampu menyentuh sisi emosi dari tiap individu, brand kita akan keluar sebagai pemenang di persaingan yang ketat. Kalau tidak salah ingat di era 80-90 pada industri musik, pernah terjadi hal yang hampir sama seperti diatas. Yaitu mempengaruhi alam bawah sadar mereka (psikologi massa) melalui musik, dimana mereka dipengaruhi untuk membeli merchandise dari band tersebut. Entah itu benar atau urban legend tapi hal itu pernah menjadi perdebatan yang panjang di industri musik.
Ok hal lain mungkin terjadi di industri film, kalau diperhatikan disaat kita melihat film ada adegan-adegan yang tanpa sadar dicekoki dengan brand. Seperti adegan disaat pemeran utama melihat jam tangan, kita akan melihat dan merasa "wah jam tangannya keren banget ya, beli dimana tuh?". Objek itu tersimpan di alam bawah sadar kita sebagai refrensi (inception:ide dasar itu akan susah hilang dari ingatan kita). Disaat kita jalan dan ingin membeli jam tangan tanpa sadar kita akan memilih jam tangan itu tanpa kita tahu awalnya dimana, kenapa kita membeli jam itu yang kita sendiri tidak ingat melihatnya dimana. Terkadang pun alam bawah sadar mereka menolak sebuah "ide" jika kondisi tersebut tidak masuk akal secara nalar. Mereka memiliki pertahanan pemikiran dari "refrensi" yang pernah mereka alami di tempat lain.

Penanaman persepsi tentang sebuah brand bisa dilakukan dimana saja, dan kapan saja tanpa kita sadari dengan cara apapun termasuk memasang iklan sekalipun. Dimana persepsi tersebut kita ulang secara terus-menerus dan mampu menyentuh emosi dari alam bawah sadar konsumen, maka mereka akan memilih tanpa tahu awalnya bagaimana kenapa mereka memilih brand tersebut.

No comments: