Banyak orang bilang sekarang tuh eranya komunikasi dua arah, interaksi dan saling berkolaborasi. Konsumen butuh wadah untuk dapat berinteraksi dengan brand secara intens, makanya ada istilah conversation 2.0. Udah ga jaman ni komunikasi satu arah dari brand kepada konsumen dengan gaya komunikasi yang menggurui.
Mungkin iklan ini yang dapat menggambarkan kondisi komunikasi brand sekarang.
Kalau kita masih terjebak dengan kaya komunikasi lama, kita akan diceraikan oleh pelanggan tak terkecuali yang loyal dengan kita.
enjoy...
Sunday, June 27, 2010
Friday, June 18, 2010
MARKETING 101
Marketing Lesson for the day....
1)You see a beautiful girl at a party. You go up to her and say " I'm very rich. Marry me". That's Direct Marketing.
2)You see a beautiful girl at a party. You go up to her and get her number. Next day you call her " I'm very rich. Marry me". That's Telemarketing.
3)You see a beautiful girl at a party. You straighten your tie, go up to her, pour her drink. Open the door for her and give her a ride home and then say " I'm very rich. Marry me". That's Public Relation
4) You see a beautiful girl at a party. She walks to you and say " You are very rich. Marry me". That's Brand Recognition.
5) You see a beautiful girl at a party. You go up to her and say " I'm very rich.Marry me". She gives you a hard slap on your face.
That's Customer Feedback.
dapat dari teman melalui email malam ini. thanks nice email sob.
1)You see a beautiful girl at a party. You go up to her and say " I'm very rich. Marry me". That's Direct Marketing.
2)You see a beautiful girl at a party. You go up to her and get her number. Next day you call her " I'm very rich. Marry me". That's Telemarketing.
3)You see a beautiful girl at a party. You straighten your tie, go up to her, pour her drink. Open the door for her and give her a ride home and then say " I'm very rich. Marry me". That's Public Relation
4) You see a beautiful girl at a party. She walks to you and say " You are very rich. Marry me". That's Brand Recognition.
5) You see a beautiful girl at a party. You go up to her and say " I'm very rich.Marry me". She gives you a hard slap on your face.
That's Customer Feedback.
dapat dari teman melalui email malam ini. thanks nice email sob.
Thursday, June 10, 2010
Sales Division VS Marketing Division
Dulu sewaktu saya masih di Agency sering kali disaat meeting dengan klien, saya menganjurkan untuk mengintegrasikan antara kegiatan marketing dengan kegiatan sales. Dimana divisi sales dan marketing harus lebur menjadi satu untuk membicarakan program marketing dan program sales, atau paling tidak brainstrom dalam satu meja dan menghormati kepentingan masing-masing divisi. Dikarenakan yang selalu terjadi di lapangan bahwa divisi marketing mempunyai kepentingan tersendiri dan sales pun memiliki kepentingan sendiri. Dimana kepentingan tersebut yang memicu adanya komunikasi yang tidak terintegrasi pada brand, dan berpengaruh pada karakteristik brand tersebut di mata masyarakat. Seperti contohnya, divisi marketing create thematic campaign yang elegan, priceless dan bla.. .bla... sesuai dengan positioning brand yang akan ditanamkan di benak konsumen. Tiba-tiba divisi sales di lapangan membuat program "buy 1 get 1" dimana divisi sales pun memiliki target yang harus dipenuhi. Bagaimana kira-kira persepsi masyarakat terhadap brand tersebut? di above the line dia berbicara kemewahan di sales promotion dia bikin buy 1 get 1. Kalau istilah saya pada saat itu, yang saya sampaikan pada klien yaitu "komunikasinya belang-belang."
Tapi anjuran saya sebagai agency pada saat itu, apakah benar-benar sustainable solution bagi perusahaan itu? apakah benar-benar fit bagi divisi marketing dan divisi sales. Ntar yang ada mereka berantem sendiri, "lo enak ya bikin iklan melulu, kita ini yang jualan setengah mampus menuhin target." Disaat sekarang, saya berada disalah satu group besar yang bergerak di bidang otomotif sebagai corporate brand analyst. Saya merasa anjuran yang dulu pernah saya lempar pada klien kok kayanya tolol banget ya. Pada kenyataannya hal tersebut bukan suatu hal yang mudah dipecahkan, tiap divisi memiliki target dan kepentingan yang berbeda. Walaupun di tahun 2007 atau bahkan sebelum itu Hermawan Kertajaya dari Markplus mengatakan hal yang sama, dimana divisi marketing dan sales harus berbicara satu meja dan menghormati kepentingan masing-masing divisi.
Didalam corporate ini saya masih banyak melihat, gaya komunikasi yang tidak terintegrasi. Promo material yang tidak sewarna, sejalan, satu bahasa dengan divisi marketing. Disini semuanya sibuk memenuhi target dari masing-masing divisi, sehingga kurang peduli terhadap brand yang dibangun diluaran. Walaupun masyarakat tidak menyadarinya, tapi klo saya boleh bicara ini seperti panggung festival megah didepan dibelakangnya berantakan. Promo material yang dibuat secara terburu-buru oleh inhouse designer, tanpa menoleh kembali pada buku standar manual logo. Yang penting warnannya gini gitu ada logo perusahaan, yap beres jadi ni poster promo untuk dilempar pada distibutor.
Tapi anjuran saya sebagai agency pada saat itu, apakah benar-benar sustainable solution bagi perusahaan itu? apakah benar-benar fit bagi divisi marketing dan divisi sales. Ntar yang ada mereka berantem sendiri, "lo enak ya bikin iklan melulu, kita ini yang jualan setengah mampus menuhin target." Disaat sekarang, saya berada disalah satu group besar yang bergerak di bidang otomotif sebagai corporate brand analyst. Saya merasa anjuran yang dulu pernah saya lempar pada klien kok kayanya tolol banget ya. Pada kenyataannya hal tersebut bukan suatu hal yang mudah dipecahkan, tiap divisi memiliki target dan kepentingan yang berbeda. Walaupun di tahun 2007 atau bahkan sebelum itu Hermawan Kertajaya dari Markplus mengatakan hal yang sama, dimana divisi marketing dan sales harus berbicara satu meja dan menghormati kepentingan masing-masing divisi.
Didalam corporate ini saya masih banyak melihat, gaya komunikasi yang tidak terintegrasi. Promo material yang tidak sewarna, sejalan, satu bahasa dengan divisi marketing. Disini semuanya sibuk memenuhi target dari masing-masing divisi, sehingga kurang peduli terhadap brand yang dibangun diluaran. Walaupun masyarakat tidak menyadarinya, tapi klo saya boleh bicara ini seperti panggung festival megah didepan dibelakangnya berantakan. Promo material yang dibuat secara terburu-buru oleh inhouse designer, tanpa menoleh kembali pada buku standar manual logo. Yang penting warnannya gini gitu ada logo perusahaan, yap beres jadi ni poster promo untuk dilempar pada distibutor.
2 minggu ini saya bekerja disana, di minggu awal saya mengatakan mengenai brand yang belang-belang di rapat internal dengan gaya bahasa agency. Ternyata obrolan saya kurang direspon cukup baik khususnya pada divisi sales, yang ada malah mereka melihat saya dengan gaya permusuhan.
Beberapa kali saya bicara mengenai iklan dan branding, yang ada dikepala mereka, "Saya buang duit segini emang impactnya bisa langsung dirasakan, apa langsung berpengaruh pada volume penjualan saya." Dan di meeting itu saya pun bersikukuh bahwa marketing campaign tidak berkorelasi positif terhadap penjualan, yang saya bangun adalah positioning brand karakteristik brand dimana diharapkan mereka akan menggunakan produk kita klo image itu terbangun secara positif di mata konsumen.
Didalam sini saya melihat lebih obyektif dalam segala hal, mempelajari bagaimana proses produksi itu berjalan. Bagaimana sebuah produk di develop dan diletakkan di market yang sesuai, dengan karakteristik produk tersebut. Mempelajari segala aspek yang terlibat pada berjalannya sebuah roda bisnis, melihat keterlibatan semua divisi dalam mendukung jalannya industri dan bisnis.
Mungkin kita benar-benar mengerti mengenai advertising, branding dan ilmu komunikasi. Tapi apakah kita benar-benar memahami industri itu berjalannya bagaimana, dan internal proses yang seperti apa terjadi di dalamnya. Arogansi kita sebagai orang agensi yang selalu berpendapat bahwa kita tau semuanya, ternyata tidak semuanya kita tahu. Tempatkan klien diposisi sebagai partner bukan sebagai orang bodoh yang tidak menahu tentang advertising dan sebagainya, mereka lebih memahami apa yang mereka mau dan harapkan dari servis sebuah agensi.
Beberapa kali saya bicara mengenai iklan dan branding, yang ada dikepala mereka, "Saya buang duit segini emang impactnya bisa langsung dirasakan, apa langsung berpengaruh pada volume penjualan saya." Dan di meeting itu saya pun bersikukuh bahwa marketing campaign tidak berkorelasi positif terhadap penjualan, yang saya bangun adalah positioning brand karakteristik brand dimana diharapkan mereka akan menggunakan produk kita klo image itu terbangun secara positif di mata konsumen.
Didalam sini saya melihat lebih obyektif dalam segala hal, mempelajari bagaimana proses produksi itu berjalan. Bagaimana sebuah produk di develop dan diletakkan di market yang sesuai, dengan karakteristik produk tersebut. Mempelajari segala aspek yang terlibat pada berjalannya sebuah roda bisnis, melihat keterlibatan semua divisi dalam mendukung jalannya industri dan bisnis.
Mungkin kita benar-benar mengerti mengenai advertising, branding dan ilmu komunikasi. Tapi apakah kita benar-benar memahami industri itu berjalannya bagaimana, dan internal proses yang seperti apa terjadi di dalamnya. Arogansi kita sebagai orang agensi yang selalu berpendapat bahwa kita tau semuanya, ternyata tidak semuanya kita tahu. Tempatkan klien diposisi sebagai partner bukan sebagai orang bodoh yang tidak menahu tentang advertising dan sebagainya, mereka lebih memahami apa yang mereka mau dan harapkan dari servis sebuah agensi.
Label:
advertising,
agency,
branding,
idea,
inspiration,
marketing
Sunday, May 30, 2010
Client VS Agency
Obrolan yang rada basi ni, tapi ok gapapa kita bahas aja lagi. Social media hari ini kayanya sudah menjadi ritual wajib tiap orang, hampir tiap orang sekarang berusaha eksis di dunia keduanya. Tenggelam dalam social life yang dipermudah/dipercepat dengan adanya teknologi, berusaha menjaga eksistensi diri di social media life.
Dengan tingkat akses terhadap social media begitu tinggi, seharusnya brand-brand besar melirik social media sebagai sarana promosi atau communication channelnya. Apakah brand besar belum melirik social media sebagai salah satu channel communication? sudah-sudah mereka (brand besar) telah menggunakan social media sebagai sarana promosi. Seperti coca cola, frisian flag, mungkin study case yang paling sukses adalah adrie subono dengan java musikindo dan brand lainnya yang menggunakan social media sebagai salah satu pendukung strategi komunikasi. Tapi ada kondisi ironis di balik mereka menggunakan social media tersebut, saya berpendapat mereka masih belum memahami benar big picture dari social media dan manfaatnya.
Banyak dari mereka memanfaatkannya dikarenakan kompetitor mereka bermain disana, dan social media digunakan masih sebatas wacana, opini sembari mereka mengamati perkembangannya day to day. Mereka menganggap social media masih susah diukur tingkat keberhasilannya, elemen apa yang terlibat dalam pengukuran promosinya. Sebut saja media TV mereka invest duit senilai X dengan data pemirsa sekian ribu, sehingga duit X tersebut dibagi perkepala dan terasa murah bagi klien. Ok bagaimana dengan social media bagaimana pengukuran tersebut di adjust?
Di indonesia sering kali saya menemui online marketing agency, memaksakan campaign klien mereka via online. Seolah-olah internet dan social media lainnya adalah media yang powerfull, memang benar sih sekarang ini internet merupakan media yang sangat powerfull bahkan untuk beberapa tahun kedepan. Tapi diluar negeri saja media spending paling banyak masih jatuh pada televisi, pemahaman mereka bahwa televisi masih cukup powerfull untuk menjaring brand awareness. Klo diluar negeri saja pemahamannya seperti itu, ya ga salah juga jika pemilik brand di Indonesia pun berpendapat hal yang sama.
Pada akhirnya setiap klien menginginkan pertanggungjawaban dari investasi yang mereka keluarkan Bukan berbicara duit segini kamu dapetnya website dan social media maintain, tapi berbicara investasi yang cukup menguntungkan bagi dia dan brand tersebut. Dengan nominal X saya dapet keuntungan seperti ini, saya rasa investasi yang saya keluarkan cukup pantas. Jadi jelaskan ke klien secara clear bahwa duit yang mereka keluarkan itu akan memberi impact kepada audiencenya seperti ini seperti itu.
Untuk penutup obrolan mungkin video ini cukup pas.
Dengan tingkat akses terhadap social media begitu tinggi, seharusnya brand-brand besar melirik social media sebagai sarana promosi atau communication channelnya. Apakah brand besar belum melirik social media sebagai salah satu channel communication? sudah-sudah mereka (brand besar) telah menggunakan social media sebagai sarana promosi. Seperti coca cola, frisian flag, mungkin study case yang paling sukses adalah adrie subono dengan java musikindo dan brand lainnya yang menggunakan social media sebagai salah satu pendukung strategi komunikasi. Tapi ada kondisi ironis di balik mereka menggunakan social media tersebut, saya berpendapat mereka masih belum memahami benar big picture dari social media dan manfaatnya.
Banyak dari mereka memanfaatkannya dikarenakan kompetitor mereka bermain disana, dan social media digunakan masih sebatas wacana, opini sembari mereka mengamati perkembangannya day to day. Mereka menganggap social media masih susah diukur tingkat keberhasilannya, elemen apa yang terlibat dalam pengukuran promosinya. Sebut saja media TV mereka invest duit senilai X dengan data pemirsa sekian ribu, sehingga duit X tersebut dibagi perkepala dan terasa murah bagi klien. Ok bagaimana dengan social media bagaimana pengukuran tersebut di adjust?
Di indonesia sering kali saya menemui online marketing agency, memaksakan campaign klien mereka via online. Seolah-olah internet dan social media lainnya adalah media yang powerfull, memang benar sih sekarang ini internet merupakan media yang sangat powerfull bahkan untuk beberapa tahun kedepan. Tapi diluar negeri saja media spending paling banyak masih jatuh pada televisi, pemahaman mereka bahwa televisi masih cukup powerfull untuk menjaring brand awareness. Klo diluar negeri saja pemahamannya seperti itu, ya ga salah juga jika pemilik brand di Indonesia pun berpendapat hal yang sama.
Pada akhirnya setiap klien menginginkan pertanggungjawaban dari investasi yang mereka keluarkan Bukan berbicara duit segini kamu dapetnya website dan social media maintain, tapi berbicara investasi yang cukup menguntungkan bagi dia dan brand tersebut. Dengan nominal X saya dapet keuntungan seperti ini, saya rasa investasi yang saya keluarkan cukup pantas. Jadi jelaskan ke klien secara clear bahwa duit yang mereka keluarkan itu akan memberi impact kepada audiencenya seperti ini seperti itu.Untuk penutup obrolan mungkin video ini cukup pas.
Monday, May 10, 2010
Catatan (kreatif) seorang keparat
Baru aja kelar bongkar dus yang isinya pernak-pernik kuliah, blm terlalu lama juga sih lulus dari dunia perkuliahan yah sekitar 3 tahun lalu. Dus yang berdebu berisi berbagai macam tumpukan kertas sketsa, fotografi dan beberapa lembar transkrip nilai. OK yang mau dishare bukan menemukan foto2 mantan pacar, atau tugas-tugas kuliah yang masih amatir banget didunia design dan kreatif.
Di dalam dus itu saya menemukan buku, yang berisi coretan-coretan layout. Pemikiran strategi kampanye terhadap sebuah brand, ide yang spontan keluar begitu aja pas tiba-tiba melihat sesuatu yang menarik perhatian saya dan bisa menjadi trigger untuk bikin tugas kuliah. Coretan tangan mengomentari fotokopi teori-teori tentang perilaku konsumen, psikologi massa, komunikasi massa, dan advertising. Dulu kebiasaan spontan menulis dan nge-layout di buku itu sangat membantu, untuk develop ide tugas kuliah. Dimana harus bikin ide 20 dan di sketch di kertas A4 dibagi 4 (kira2 A6 ya?) disaat dapat tugas bikin print ad.
Saya baca satu-satu dari coretan itu, ternyata sebagian besar sudah saya terapkan di pekerjaan sekarang ini. Bekerja sebagai graphic designer selama 3 bulan dan lanjut sebagai brand strategic development hingga sekarang. Ide-ide yang dulu hanya mentok di tugas kuliah, sekarang ide itu bicara lebih keras menjawab objective dari klien dan menjawab dari creative brief. Menyenangkan hati klien atas result dan target yang ingin dicapainya, menyenangkan hati end user saat melihat campaign dan collateral yang dapat menyentuh secara emosi.
Kebiasaan corat-coret itu tidak lepas hingga sekarang, alat tulis dan buku kecil tidak pernah lepas dari bawaan wajib. Termasuk folder XXX di laptop yang menampung ide-ide yang belum tereksekusi, entah karena gagal pitching atau sekedar iseng menuangkan layout, radio script termasuk strategi kampanye brand tertentu. Pemikiran tentang tren perilaku konsumen, tentang gaya komunikasi termasuk pemikiran tentang marketing komunikasi.
Sadar atau tidak coretan-coretan kecil itu yang ternyata, membantu saya bekerja 3 tahun belakangan ini. Membantu menggiring saya diposisi bekerja yang cukup menyenangkan, buat saya dan orang di sekitar lingkungan kerja partner dan principle.
perhatikan hal-hal kecil disekitarmu yang luput dari pandangan orang lain, disitulah ide bermula. selamat mencorat-coret.
Label:
advertising,
agency,
idea,
inspiration,
life
Sunday, May 9, 2010
google: parisian love
Pas browsing2 di youtube tiba-tiba nemu iklan google ini, iklan yang sederhana simply beautiful. Tapi message yang terkandung bener2 berbicara dan menyentuh secara personal di user-user google. Dari iklan ini terlihat bahwa mereka benar2 memahami consumer insight google. And guess what? agency yang mengerjakan iklan ini yaitu inhouse google itu sendiri. Google creative lab. Dengan biaya produksi yang rendah, team google mampu membuat commercial yang seperti ini great team work.
Label:
advertising,
branding,
idea,
inspiration
Wednesday, April 7, 2010
In an Absolut World
Nice, TV ADS Absolut vodka Inspiring.
Seharusnya brand-brand besar harus mampu menginspirasi para konsumen atau calon konsumennya seperti ini. Saya bukan pengkonsumsi Brand Vodka, tapi entah kenapa Commercial ads ini bisa mempengaruhi persepsi saya terhadap brand vodka. Kenyamanan bersosialisasi dan beriteraksi layaknya di absolut world, seharusnya kita bisa hidup saling berdampingan satu sama lain seperti yang ditampilkan commercial vodka.
Brand lokal kita yang saya rasa commercialnya mampu menginspirasi seperti commercial Vodka, mungkin seperti commercial Garuda Indonesia, Telkomsel, Pertamina, Gudang Garam cahaya Asa.
Satu lagi iklan Vodka yang cukup inspiring. Enjoy...
Subscribe to:
Posts (Atom)
