There was an error in this gadget

Monday, November 22, 2010

Djakarta BlueJeans-ku

“aku suka bekerja seperti ini, melayani orang dengan baik membuat mereka tersenyum dan tertawa. Disitulah aku merasakan sebuah kebahagiaan, apalagi disaat mereka memuji kerjaan ku.”
“aku juga senang jalan-jalan berkeliling Jakarta, mencari kebahagiaan kecil dengan ngelihat aktivitas banyak orang…..
“Karena buat aku mengetahui sifat, perilaku dan emosi orang adalah modalku untuk kerja.”

Omongan yang keluar dari seorang waitress restoran, entah sejak kapan saya mengenal dia. Namun obrolan tersebut keluar begitu saja seolah kita sudah lama mengenal. Dia bercerita banyak hal mengenai tamu-tamunya, pengalaman yang sepele tapi dia bisa cerita dengan cukup menarik. Kemampuannya dalam meng-capture slice of life sangat luar biasa dan bisa menceritakannya kepada orang lain dengan baik.

Dia bercerita mengenai bagaimana, dia nyasar naik angkutan pertama kali pada saat datang ke Jakarta. Menceritakan hobinya yang klo lagi off dia pergi naik angkot, dan berkeliling dari satu terminal ke terminal lain. Satu hal yang menarik, yaitu dia selalu mengulang kata “little happiness”

Dan ada penggalan kalimat yang dia sampaikan membuat karakternya begitu kuat di mata saya.

“Aku suka banget berkeliling Jakarta , melihat aktifitas banyak orang, begitu juga dengan celana jeans kesayanganku ini.”
“Dia (celana jeans) selalu setia menemani aku mencari little happiness di pelosok kota Jakarta. Klo dia bisa bicara, dia akan bercerita banyak hal mengenai Jakarta….”
“Djkarta blue jeansku.”

Dia menggambarkan seluruh kehidupan Jakarta tertulis pada celana jeansnya, dan dia mengatakan jeans ini juga salah satu “little happiness”. Kehidupan serta padangan yang simple dalam mengejar sebuah kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Beda banget dengan omongan wanita-wanita executive yang mengejar karir dengan ambisi keras, jika ditanya buat apa kerja ampe malam-malam “ya buat mengejar segenggam berlian dan sebuah tas hermes.” Dan saya hanya bisa tersenyum mendengar jawaban itu.

Dan tulisan ini salah satu "little happiness" saya.

Friday, November 5, 2010

MOVEment is the new unconventional media


"Unconventional Media", mungkin kata tersebut bukanlah hal asing bagi mereka yang bekerja di advertising, graphic house dan creative agency lainnya. Bagi kebanyakan orang berusaha menelaah apa sih arti sebenarnya dari "unconventional media".
Ok sekarang kita berpikir apa sih "unconventional media" itu? Mungkin artinya media yang tidak biasa pada tempatnya, media yang aneh, atau media yang mampu membuat banyak orang membicarakannya. Setelah browsing di google "Unconventional media" selalu disangkutkan dengan guerilla marketing dimana salah satu pemahaman yang masuk akal adalah "The objective of guerrilla marketing is to create a unique, engaging and thought-provoking concept to generate buzz, and consequently turn viral"

Media yang seperti apa sih yang akhirnya disebut "unconventional media", apakah ini disebut unconventional media?.















Dulu kita mungkin akan setuju bahwa hal tersebut aneh, ini unik dan bisa salah satu media promosi yang akan diomongkan banyak orang. Atau lain hal seperti contoh ini.
Tapi kalau kita pahami lebih dalam mengenai "unconventional media" dimana selalu disangkutkan dengan guerilla marketing, bahwa konsep "Unconventional Media" lebih besar dan powerfull dari sekedar media-media diatas. Pemahaman "to create a unique, engaging and thought-provoking concept to generate buzz" seharusnya kita tidak hanya terpatok pada pembuatan media yang lucu dan aneh saja. Melainkan membuat sesuatu yang lebih besar daripada hanya sebatas media yang aneh dan lucu saja, mampu masuk diseluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan emotional bonding dan menginspirasi mereka.

OK seperti apa pemikiran besar dalam membuat "unconventional media" dan mampu menggerakkan masyarakat? MOVEMENT is the new unconventional media. Seperti kita lihat kampanye Anlene dengan 10.000 langkah-nya, Buavita dengan hari buahnya yang tempo hari sempet rame di twitter, Biskuat macan Indonesia mencari Atlet, Ibu&Balita dari Frisian Flag dan beberapa macam movement lainnya. Sadar atau tidak sadar campaign tersebut mampu menciptakan interaksi antara pemilik brand dan seluruh lapisan masyarakat sehingga terbangun emotional bonding yang kuat.

Di era internet dan social media seperti sekarang ini, sebuah movement menjadi lebih gampang diwujudkan dan lebih cepat menyebar kesemua kalangan. Seperti beberapa hari ini di twitter rame akan "prayforindonesia", sebuah pergerakan kepedulian terhadap musibah yang terjadi di beberapa tempat di indonesia. Dimana setiap orang memasang avatar prayforindonesia dan membuat hastag sebagai tanda mereka peduli terhadap bencana tersebut. Atau mungkin di jaman lebaran kemaren di twitter rame tentang #pulkam, sebuah movement dimana mereka men-sharing foto dan cerita disaat mereka mudik ke kampung halaman.

Banyak hal yang tiba-tiba menjadi trend dan dibicarakan oleh banyak orang di social media, dikarenakan karakteristik media internet yang saya menyebutnya dengan no boundaries. Berangkat dari beberapa orang membicarakan sesuatu dan tanpa sadar hal tersebut menjadi omongan banyak orang. Contoh case yang ga kalah fenomenal yaitu sinta dan jojo dengan video lipsync-nya di youtube.

Pertanyaannya bagaimana movement tersebut dapat dikatakan sukses, dan diikuti oleh banyak orang? Kalau kita buka buku yang menyangkut dengan komunikasi massa, menurut saya satu hal yang menyebabkan kenapa movement dapat berhasil dikarenakan kekuatan yang namanya majority. Majority yang didukung oleh social media membuat movement dapat terdeliver dengan cepat dan creating buzz di masyarakat.
Seperti buku tribes karangan seth godin yang membahas bagaimana seseorang dapat memiliki kekuatan dikarenakan memiliki followers banyak di twitter dan blogspot. Buku Tipping point karangan malcolm gladwell yang membedah kenapa brand Hush Puppies mendadak meledak, padahal brand tersebut hampir mati hanya dikarenakan sekumpulan anak muda mengenakan hush puppies dan terlihat cool.

Kira-kira 2 tahun yang lalu, saya selalu mengarahkan klien-klien untuk membuat movement daripada sekedar bikin print dan iklan TV. Mengalokasikan budget TVC ke movement yang lebih powerfull dalam menanamkan emotional bonding ke masyarakat. Sekarang banyak brand besar yang mengubah strategi komunikasi brand mereka, menggunakan media berjajar secara horisontal.

Jadi masihkah kita berpikiran sempit bahwa unconventional media hanya sebatas pada media yang aneh dan lucu saja namun tidak memiliki makna mendalam. New Unconventional Media yaitu sebuah pergerakan massa, yang mampu menembus emosional di setiap level followers-nya dan menggerakan pada satu tujuan.
make a movement not only to the extent of brand campaign.