There was an error in this gadget

Saturday, February 27, 2010

Pendewasaan

Memang benar kedewasaan seseorang didapatkan dari pengalaman hidupnya, rintangan, tantangan serta harapan yang dialaminya. Membantu membentuk pola pikir, sudut pandang dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Termasuk juga perusahaan yang beranjak dewasa bersama karyawannya. Dimana dulu mereka merangkak bersama untuk mencapai tujuan yang mereka elu-elukan, semangat kebersamaan yang kental satu dengan lainnya. Disaat perusahaan semakin dewasa ditandai dengan billing yang tinggi dan internal yang semakin banyak. Disitulah sebuah sistem dibentuk berdasarkan kedewasaan berpikir akan kendala serta tantangan yang mereka hadapi sebelumnya. Namun sistem tersebut malah menimbulkan rejection dari internal mereka sendiri, ketidak cocokan antara karyawan dengan sistem. Dilema yang besar dihadapi sebuah perusahaan, yang seharusnya semua dapat diatur dengan sistem organisasi serta SOP yang jelas dan dimaksudkan membuat semuanya menjadi lebih baik dan teratur.

Apa yang mebuat rejection terjadi? padahal mereka tumbuh dewasa bersama-sama untuk mencapai mimpi yang sama. Tidur, makan dan bekerja mereka lakukan bersama. Kenapa pendewasaan tersebut tidak sama levelnya apa yang membuat pola pikir dan sudut pandang tersebut berbeda?
Kata HRD manager ternama di perusahaan Advertising Multinasional sebut saja Rani, pernah ngobrol klo
"... penolakan itu mungkin saja terjadi dikarenakan kita kurang komunikasi satu dengan lainnya yan, dulu disaat kita kecil kita komunikasi lebih enak semua bisa dikompromikan. Tapi disaat kita dewasa semuanya menjadi lebih egois dan berpikir dari sudut pandang mereka sendiri. Perusahaan berpikir tentang profit... profit dan profit.... karyawan berpikir kita kerja diperas begini tapi yang di dapat begitu saja.... dan kita semua jadinya jarang komunikasi satu dan lainnya termasuk antara karyawan sekalipun, dah jarang hang out bareng kaya dulu lagi.
Semua menjadi lebih egois yan, padahal apa yang mereka pikirkan berada dimimpi yang sama disaat kita anak2 berada di lini yang sama namun dari sudut pandang yang berbeda sama sekali...."

Egois hmm apa memang benar kata egois yang dapat me-representative-kan keadaan itu? apa tidak ada faktor2 lain yang membuat kedewasaan mereka berbeda?

Mungkin yang dapat menyelesaikan dilema ini hanya masalah komunikasi satu dan lainnya, kebersamaan mencapai mimpi dari persepsi yang sama dan pendewasaan yang sama.
Menjaga komunikasi antara satu dan lainnya membuat kita dewasa bersama-sama secara sudut pandang dan persepsi. Dan tetap fokus pada mimpi yang akan kita raih sejak kecil.

mari ngobrol kawan-kawan....

Leo Burnett Human Kind


pas browsing youtube tiba2 nemuin ini ni.

Video yang diputar di masa orientasi karyawan baru di Leo Burnett, Bagaimana Leo Burnett memahami perubahan industri dan perilaku dari manusia sebagai target market klien2 mereka. selamat menikmati.

Sunday, February 21, 2010

Social media dan opini.


Facebook, twitter dan social media lainnya memang sedang naik daun, tak sedikit orang yang bermain di social media. Dimana-mana orang memegang henpon dan tak ada satupun yang tidak terkonek dengan sosial media ini. Tanpa sadar landskape perilaku konsumen dan marketing pun berubah, banyak brand besar mulai memasuki sosial media sebagai channel baru untuk berinteraksi dengan audience-nya.

Mahasiswa S1,S2 dan S3 melihat fenomena ini, banyak yang ingin mengangkatnya sebagai judul tesis mereka. Melihat perkembangan media yang mampu men-drive sebagian besar perilaku masyarakat, salah satu hal yang cukup menarik untuk diulas dan diperhatikan.

Apa ya yang kira-kira dilakukan oleh dosen komunikasi atau dosen marketing, jika mahasiswa mereka mengajukan social media sebagai judul tesis?. Coba dengan judul tesis seperti ini "menguatkan brand equity produk A dengan memanfaatkan social media sebagai salah satu strategi." mungkin banyak dosen yang berkomentar, "emang kamu punya bahannya?" atau "emang ada buku literatur yang membahas tentang social media." Dan akhirnya judul tersebut ditolak dengan alasan literatur yang tidak cukup.

Tapi sebenarnya apakah benar literatur dan refrensi yang tidak cukup? Bukannya di google cukup banyak refrensi yang bisa kita sertakan dalam tesis itu, namun permasalahan yang paling mendasar apakah dosen sebagai target audience dari tesis itu memahami social media dan kinerjanya. Atau mungkin benar-benar tidak ada literatur yang cukup membahas tentang social media.

Kurikulum pendidikan kita tidak memungkinkan menggunakan wikipedia, google atau internet sebagai landasan literatur atau refrensi, kurikulum kita mengharuskan menggunakan literatur cetak yang ada dalam penyusunan tesis atau skripsi. Dimana literatur cetak yang membahas tentang social media atau internet marketing tidak terlalu banyak, walaupun social media sedang hip di masyarakat kita.

Social media memang sedang booming dan hip di berbagai golongan masyarakat, banyak orang yang menggunakannya entah sekadar menambah networking atau digunakan sebagai salah satu strategi marketing. Namun hal tersebut masih bersifat opini di sebagian masyarakat kita, mungkin dosen dan termasuk salah satu klien kita. Bagi mereka social media hanya sebatas mainan yang menghabiskan waktu kerja saja dan membuat kinerja mereka jadi tidak produktif.

Tugas kita sebagai praktisi bisnis di bidang komunikasi, marketing dan mahasiswa serta masyarakat yang menggunakan social media. Untuk mampu meng-influence dosen, klien serta golongan lain.
Bahwa social media merupakan channel baru yang mampu merubah perilaku konsumen dalam mengkonsumsi media dan berinteraksi dengan Brand tertentu.

Wednesday, February 17, 2010

Personal Branding In Social Media

Tiba-tiba ditodong suruh ngajar tentang personal branding di John Robert Power, akhirnya dengan waktu 3 jam jadilah ppt ini.
Selamat menikmati!

Blog yang berdebu.

Hai kawan,
sudah lama tak melihat dan bergumul denganmu.
Entah ini sebagai alasan yang dibuat-buat atau memang begitu adanya, semenjak maraknya sosial media. Menulis di blog, blog surfing menjadi kurang menyenangkan ada hal lain yang lebih menarik untuk diintip dan diikuti perkembangannya. Sebut aja facebook, twitter dan yang terakhir google buzz mainan baru yang masih membutuhkan perhatian lebih sehari-harinya.

Menulis lebih banyak di notes Facebook, penetrasi berita lebih cepat via twitter dan Facebook. Sedangkan blog hanya terkesan satu arah, walaupun ada kolom komen. Namun tidak cukup dibandingkan kecepatan spreading dari Facebook dan Twitter. Mungkin saya saja yang terlalu kuno sehingga tidak mengikuti perkembangan dunia blogspot.

Jika saya bandingkan dengan orang terkenal yang cukup saya kenal, (lagi-lagi pembelaan) semenjak adanya FB dan twitter mereka jadi jarang menulis sesuatu di Blog mereka. Kegiatan menulis di blog drastis berubah menjadi tulisan status ringan di FB atau di Notes, belum lagi komentar-komentar mereka terhadap sesuatu dilontarkan via twitter.
Ke-asik-an menulis di blog lama-lama tergerus sama seperti era friendster yang makin lama ditinggalkan usernya dan beralih ke Facebook, menurut pandangan saya lho.

Tapi memang tidak adil membandingkan blog dengan social media seperti Facebook dan Twitter.

Jadi saya rasa kegiatan nge-Blog, nge-Facebook, nge-Twitter, nge-Kaskus dan nge-Macclub harus berjalan seiringan dan pararel.

well, selamat datang kembali "freakysme", kata moderator blogspot.


Sunday, February 14, 2010

Disaat majority sebagai pengarah opini.

Akhir-akhir ini cukup banyak komunitas baru bermunculan beserta seabrek kegiatan dan rutinitasnya. Komunitas bukan hal yang baru bermunculan setahun atau dua tahun terakhir ini, bahkan komunitas telah ada puluhan tahun yang lalu disaat Brand Harley Davidson mulai beranjak naik dan digilai penggunanya. Lambat laun mereka mulai membentuk kesukuan dimana bahasa kerennya "Tribes", komunitas ekslusif yang membedakan mereka dengan lainnya dengan beragam atributnya. Sedikit demi sedikit mereka mulai menarik anggota baru dan mempengaruhi opini pecinta/pengendara dan masyarakat awam tentang Harley Davidson. Dan akhirnya setiap orang ingin memiliki dan mengendarai Harley Davidson.

Oke sekarang kita lihat fenomena yang satu ini.
Bersepeda sebenernya bukan olah raga baru di Indonesia, tapi entah kenapa 2 tahun terakhir menjadi cukup booming hingga ada kampanye "bike to work". Dimana-mana orang mulai membicarakan sepeda, sepeda dan sepeda. Antara satu orang dan lainnya saling mempengaruhi untuk bersepeda atau membeli sepeda, dengan alasan hidup sehat Go Green dan sejuta alasan lainnya. Komunitas sepeda pun mulai banyak bermunculan salah satunya yang saya tahu bikeberry, komunitas pengguna sepeda serta pengguna blackberry yang blend menjadi satu. Namun klo kita tinjau ulang sepeda ini hanya salah satu trend lifestyle yang sedang hip saja. Mereka membeli sepeda dengan alasan untuk olah raga atau hidup sehat, namun alasan yang tidak mereka sadari atau mereka tidak mau mengakui, adalah inginnya mereka diakui pada sebuah komunitas tertentu.


Kekuatan mempengaruhi orang dengan opini yang bersifat majority, sedikit demi sedikit mulai men-drive opini orang yang minority. Seperti kemarin tiba-tiba teman menelepon dan bertanya-tanya tentang sepeda dan speknya, ternyata di akhir pembicaraan dia ingin membeli sepeda dan pingin join untuk bersepeda. Disadari atau tidak sepeda telah menjadi bagian dari lifestyle, yang bermula dari obrolan beberapa orang saja dan telah menjadi virus. Jadi inget buku Tipping Point yang membahas tentang 3 karakter manusia yaitu maven, connector dan salesman, yang mampu membuat sesuatu menjadi trend. Atau seperti kata atasan saya dia sering berbicara mengenai "Weapon of Influence", sebuah ilmu atau senjata untuk meng-influence orang lain disadari atau tanpa disadari.

Nah sebenernya apa saja poin yang mempengaruhi sepeda menjadi trend, siapa yang mengklaim sepeda menjadi salah satu trend?
Apakah memang manusia suka berkumpul dan bersosialisasi, atau memang ini salah satu strategi marketing yang disebut "community marketing" yang tanpa kita sadari. Atau memang benar-benar memang hanya untuk berolahraga.